Kamis, 08 April 2010

*Keunikan Sejarah lagu Halo-Halo Bandung

Penciptaan lagu Hallo-hallo Bandung oleh Ismail Marzuki sangat unik. Keterlibatan Ismail Marzuki dalam memimpin Studio Orkes NIROM II Bandung, membuat ia jatuh cinta pada Miss Eulis. Setelah bermukim di Jakarta, ingatan akan kota Bandung menjadi kenangan indah, sehingga terciptakan lagu Hallo Bandung dalam Bahasa Sunda. Sampai pada bentuknya yang kita kenal sekarang, lagu Hallo-hallo Bandung ternyata memiliki tiga versi.


SEBELUM Perang Dunia II banyak sandiwara keliling dari kota ke kota merupakan hiburan rakyat yang bermutu. Antara lain dapat disebut Dardanella, Miss Riboet, Miss Dja, Tjaja Timoer, Bintang Soerabaya dengan tokoh-tokohnya Fifi Young, Sally Young, Tan Tjeng Bok dan lain-lain.

Cerita yang paling populer dan sering dipentaskan antara lain Dokter Samsi, Gagak Solo dengan gagak betulan, Jembatan Merah dan lain-lain. Gesang menciptakan lagu Jembatan Merah berirama keroncong yang sentimental untuk ilustrasi musik pementasan cerita dengan judul yang sama. Pada 30 Oktober 1945 terjadi pertempuran di sekitar daerah Jembatan Merah Surabaya, dan Brigadir Inggris Mallaby tewas tertembak. Secara historis tidak ada kaitan antara peristiwa pertempuran Surabaya 1945 dengan penciptaan ilustrasi musik Jembatan Merah tahun 1930-an. Namun lagu ini diangkat menjadi lagu perjuangan khas Surabaya, yang selalu berkumandang dalam peringatan hari-hari nasional di bulan Agustus, Oktober dan November setiap tahun.

Tidak kurang uniknya adalah sejarah lagu yang dikenal Hallo-hallo Bandung ciptaan Ismail Marzuki. Karena mendapat tugas memimpin Studio Orkes NIROM II Bandung di Tegallega bersama Jan Snijders dengan sederetan penyanyi Miss Lee, Miss Netty, Miss Annie Landauw, Miss Nining dan juga Miss Eulis, komponis Betawi itu jatuh cinta pada yang disebut terakhir, yang dinikahinya sekitar tahun 1940 dan diberi nama Eulis Zouraida, mojang Priangan berdarah Sunda-Arab. Selagi pacaran diciptakan lagu Als de Orchiedeen Bloeien dan Panon Hideung, sebuah lagu Rusia dengan syai Sunda. Memang Eulis Bandung itu bermata hitam (Black Eyes), hidung mancung, kulit kuning seperti liriknya dalam bahasa Sunda.

Setelah bermukim kembali di Jakarta, ingatan ke kota Bandung merupakan kenangan indah, sehingga terciptalah lagu berjudul: Hallo Bandung, juga dalam bahasa Sunda, dengan syairnya sebagai berikut:

Halo2 Bandung, ibu kota Periangan;
Halo2 Bandung, kota inget-ingetan;
Atos lami abdi patebih, henteu patingal;
Mugi mugi ajeuna tiasa tepang deui;
‘tos tepang ‘teu panasaran.

(Lagu & Sjair: Ismail MZ)

Dikutip dari: 10 Lagu Indonesia oleh Ismail MZ, terbitan Humala Pontas tertanggal 14-4-1950. Terjemahannya kira-kira sebagai berikut:

Halo-halo Bandung, ibu kota Periangan;
Halo-halo Bandung, kota kenang-kenangan;
Sudah lama saya berjauhan, tidak terlihat;
Semoga sekarang dapat jumpa lagi;
Setelah jumpa, tidak penasaran.

Di sini terbukti, lagu itu berjudul Hallo Bandung, bukan Hallo-hallo Bandung, lahir sebagai rasa rindu yang sentimental. Di zaman Jepang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, rasa rindu tetap melekat. Di Perpustakaan Musik RRI Jakarta terdapat partitur lagu Hallo Bandung dalam bahasa Indonesia yang menurut katalog sebagai ciptaan dan gubahan Ismail Marzuki. Katalog itu berasal dari NIROM. Syairnya berbunyi sebagai berikut:

Hallo-hallo Bandung, Ibu Kota Pasundan;
Hallo-hallo Bandung, kota kenang-kenangan;
Lama sudah beta, ingin berdjumpa pada mu;
S’lagi hajat dan hasrat masih dikandung badan;
Kita ‘kan djumpa pula.

Selain itu ada sebuah duplikat dari partitur itu yang syairnya diubah Ismail Marzuki dengan tulisan tangannya dan paraf Mz. Ada pun bunyinya seperti yang dikenal sekarang:

Hallo-hallo Bandung, ibu kota Periangan;
Hallo-hallo Bandung, kota kenang-kenangan;
Sudah lama beta, tidak berjumpa dengan kau;
Sekarang telah menjadi lautan api,
Mari Bung rebut kembali.


DENGAN demikian paling sedikit ada tiga versi lagu Hallo Bandung ciptaan Ismail Marzuki. Sebut saja versi sebelum Perang Dunia II dengan bahasa Sunda; versi zaman pendudukan Jepang dan terakhir versi Bandung Lautan Api (BLA) yang kita kenal sekarang.

Konon dengan datangnya pasukan Inggris di Jakarta, keadaan menjadi genting sehingga Ismail Marzuki dan istri mengungsi ke Bandung. Dalam peristiwa BLA mereka bersama pejuang meninggalkan kota dan melihat pembumihangusan kota (24 Maret 1946). Sambil berjalan menyanyikan lagu rindu pada kota Bandung yang penuh kenangan. Teringat pada I shall return-nya Jenderal MacArthur, maka bait-bait terakhir diubah dengan penuh semangat: Sekarang telah menjadi lautan api, mari bung rebut kembali! Para pejuang sangat antusias dengan perubahan itu.

Untuk menghibur para pejuang di Bandung Selatan Pak Kasur (Soerjono almarhum) bulan Mei 1946 menyelenggarakan sandiwara keliling. Diundanglah para pejuang untuk berpartisipasi dan meramaikannya. Pasukan Istimewa dengan Koor Batak mengumandangkan lagu Hallo-hallo Bandung versi BLA dengan penuh semangat dan gaya khas Tapanuli yang disambut tepuk tangan meriah serta teriakan: “Bis! Bis!” agar diulang. Pak Kasur dibantu Ibu Kasur bersama para pejuang kemudian mempopulerkan lagu itu sehingga menjadi top hits dan menyebar ke seluruh pelosok tanah air. Sekarang merupakan aset kebanggaan nasional terkenal sampai luar negeri.

Apabila lagu Jembatan Merah menjadi lagu perjuangan karena pertempuran hebat di Surabaya, maka Hallo Bandung versi 1946 keluar dari BLA dahsyatnya api perjuangan Jawa Barat. Selaku komponis pejuang sekaliber maestro Ismail Marzuki telah banyak menciptakan lagu perjuangan Indonesia Pusaka, Selendang Sutera, Melati di Tapal Batas, Sepasang Mata Bola yang merupakan kebanggaan kota Yogyakarta, dan banyak lagi.

Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya yang disebut Hari Pahlawan Indonesia pun tidak luput dari perhatiannya. Maka diciptakan sebuah lagu mars berjudul Arek Suroboyo, yang tidak begitu dikenal. Sekiranya lagu itu diubah dengan apik dan dipopulerkan seperti Hallo Bandung niscaya akan segera mengorbit memberi pamor tambah bagi Surabaya, seperti Rek ayo Rek-nya Arianto dan Gebyar-gebyar-nya Gombloh. Itulah sumbangsih Ismail Marzuki yang perlu mendapat perhatian para rekan Arek Suroboyo untuk menghidupkannya kembali demi menghargai sikap simpatik dan solidaritas perjuangan Jawa Barat dan Jawa Timur di tahun 1945-1946.

Ismail Marzuki lahir 11 Mei 1914 dan wafat 29 Mei 1958, sehingga bulan Mei merupakan kesempatan baik untuk memperingati jasa-jasanya. Apalagi lagu Hallo-hallo Bandung diperkenalkan dan dipopulerkan dalam sandiwaranya Pak Kasur di Majalaya bulan Mei 1946, sehingga sekaligus merupakan peringatan 50 tahun lagu itu, bila dilakukan nanti dalam bulan Mei 1996. Juga satu kesempatan emas untuk menghidupkan kembali lagu Arek Suroboyo yang partitur-nya dapat diupayakan lewat keluarga Ismail Marzuki almarhum.

Ibu Eulis Zouraida dalam usia 79 tahun kini dalam keadaan sakit di rumah kontrakan sederhana di daerah Sawangan, Bogor. Akan tetapi puterinya, Rachmi Aziah, masih menyimpan peninggalan karya besar almarhum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar